Agen Judi Online Agen Sbobet Bola Daftar IonCasino Judi Bola Sbobet Agen Sbobet Casino Tembak Ikan Online
Inilah Lima Alasan Kenapa Isuzu Panther Masih Melegenda

Inilah Lima Alasan Kenapa Isuzu Panther Masih Melegenda

Inilah Lima Alasan Kenapa Isuzu Panther Masih Melegenda

Inilah Lima Alasan Kenapa Isuzu Panther Masih Melegenda – Isuzu Panther adalah kendaraan Diesel serba guna yang di buat oleh Isuzu di Indonesia untuk pasar Asia yang dapat di kategorikan sebagai Asian Utility Vehicle (AUV). Di rakit berdasarkan chasis dan model yang hampir mirip dengan Toyota Kijang. Isuzu Panther merupakan mobil berjenis MPV (Multi Purpose Vehicle) yang di luncurkan pada tahun 1991. Pada eranya, Panther sangat laris dan berjaya.

Model ini sangat cocok untuk membawa banyak penumpang atau barang. Panther di rancang sesuai dengan kondisi iklim, kondisi jalan, serta cocok dengan budaya setempat yang bersifat kekeluargaan. Berjuluk si ‘Raja Diesel’, mobil ini memang di kenal dengan ketangguhan dan keiritan mesin diesel-nya.¬†Kemunculan Panther saat itu, membuat Toyota Kijang punya kompetitor sengit.

Namun, produksi generasi terakhir Panther resmi di hentikan pada tahun 2020 lalu. Meski mobil tersebut sudah tidak di produksi, nama Isuzu Panther tetap populer dan bahkan, Dikutip dari idn poker mobile unit bekasnya masih ramai di buru orang. Apa yang membuat nama Isuzu Panther begitu ‘melegenda’? Ini 5 alasannya. Simak, yuk!

1. Menggunakan mesin diesel yang dikenal irit
'Tua-Tua Keladi', Ini 5 Alasan Isuzu Panther Masih Melegenda

Mesin diesel sudah di kenal keiritannya. Menariknya, iklan Panther pada tahun 1991 bahkan menyebutkan bahwa dengan modal Rp44 ribu, Panther bisa menempuh jarak Jakarta sampai Bali. Memang, pada saat iklan itu di buat, harga solar masih di kisaran Rp380 per liter.

Namun pada dasarnya mesin diesel memang lebih irit di bandingkan mesin bensin. Hal itu di sebabkan kompresi tinggi yang di hasilkan oleh mesin diesel untuk menghasilkan tenaga. Kompresi tinggi membuat mesin diesel akan menghasilkan panas yang lebih sedikit, sehingga penggunaan mesin tidak perlu membakar lebih banyak bbm.

2. Mesin yang ‘bandel’ alias tangguh
'Tua-Tua Keladi', Ini 5 Alasan Isuzu Panther Masih Melegenda

Panther di jantungi mesin empat silinder berkode 4JA1. Mesin tersebut merupakan penerus generasi mesin sebelumnya berkode C223 yang memiliki kapasitas lebih rendah.

Mesin C223 memiliki kapasitas 2.238cc, sementara penerusnya, 4JA1, mengalami peningkatan performa berkat kapasitas yang bertambah menjadi 2500 cc. Teknologi turbo juga di sematkan untuk meningkatkan tenaga mesin.

Sudah banyak pengguna Panther yang mengklaim bahwa mesin mobil tersebut awet dan tidak gampang rusak. Bahkan, masih sering juga di temui mobil-mobil Panther tahun lawas yang masih gagah mengaspal di jalanan Indonesia.

3. Konfigurasi 7 penumpang, bisa muat banyak orang
'Tua-Tua Keladi', Ini 5 Alasan Isuzu Panther Masih Melegenda

Panther memiliki konfigurasi bangku tujuh penumpang. Seperti yang di ketahui, orang-orang Indonesia sangat menyukai mobil yang bisa muat banyak.

Hingga kini pun, mobil-mobil terlaris di Indonesia adalah mobil berjenis MPV. Hal ini karena orang Indonesia mengandalkan mobil sebagai transportasi saat pergi bersama keluarga.

4. Biaya perawatan relatif murah
'Tua-Tua Keladi', Ini 5 Alasan Isuzu Panther Masih Melegenda

Panther di kenal sebagai mobil yang fungsional tidak punya sistem elektronik yang rumit. Hal itu membuat perawatan mobil ini sangat mudah dan murah.

Cukup dengan rutin ganti oli, filter solar, dan servis ringan, mobil ini relatif selalu sehat. Bahkan saking mudahnya perawatan, sudah menjadi candaan umum bahwa semua bengkel mobil pinggir jalan sudah pasti bisa memperbaiki kerusakan mesin Panther.

5. Harga jual unit bekas masih tinggi
'Tua-Tua Keladi', Ini 5 Alasan Isuzu Panther Masih Melegenda

Alasan terakhir yang tak kalah penting mengapa Panther masih sangat populer, adalah karena harga jualnya masih tinggi. Bahkan, tidak jarang Panther bekas menjadi pilihan first buyer yang punya budget pas-pasan untuk membeli mobil pertama.

Comments are closed.